Diposting oleh
putu
/ 00.18 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Watu Gilang, Singgasana Mataram Islam?
Oleh Perwiro Haryo Mukti
Menginjakkan kaki di Kotagede, Kota Yogyakarta, terasa berada di masa Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16. Kotagede, wilayah kecil di selatan Kota Yogyakarta itu, dulu merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam.
Tak heran, banyak situs sejarah beserta mitos-mitosnya yang masih terpelihara sampai sekarang. Satu yang menarik dari sejumlah situs bernilai sejarah itu, adalah Watu Gilang.
Menurut cerita yang dipercayai penduduk setempat, batu tersebut merupakan singgasana raja pertama Mataram Islam Panembahan Senopati. Sekilas batu ini tidak tampak istimewa, hanya berupa batu andesit hitam berbentuk segi empat ukuran 140x119x12,5 cm dalam sebuah bangunan segi empat yang terlihat usang.
Namun, batu ini menjadi barang "keramat" yang menarik perhatian orang untuk melihatnya secara langsung. Mereka tidak hanya sekadar melihat-lihat, tetapi juga mencari berkah.
"Orang yang datang ke tempat ini biasanya untuk menjalankan âlelakuâ atau semacam ritual terkait dengan kepercayaan tertentu," kata juru kunci yang diserahi tugas pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk merawat Watu Gilang, Hastono Utomo.
Ia mengatakan, Watu Gilang di zaman itu pernah digunakan oleh Panembahan Senopati untuk membunuh menantunya, yang sekaligus musuh bebuyutannya, Ki Ageng Mangir.
"Saat itu Ki Ageng Mangir datang menghadap sebagai seorang menantu. Ketika dia sedang sungkem, Panembahan Senopati membenturkan kepala menantunya ke Watu Gilang," katanya. Bekas benturan kepala tersebut, menurut Hastono, meninggalkan bekas di Watu Gilang berupa cekungan dan retakan di salah satu sisi batu besar itu.
Masih teka-teki
Ada dua versi mengenai riwayat Watu Gilang. Versi yang berkembang di masyarakat, dan versi arkeologis. Anggapan masyarakat bahwa Watu Gilang merupakan bekas singgasana Panembahan Senopati, dibantah secara arkeologis oleh para ahli.
Sambung Widodo dari Balai Arkeologi Yogyakarta belum berani memastikan bahwa Watu Gilang pernah dipakai sebagai singgasana Panembahan Senopati. "Tidak ada data tertulis dari Kerajaan Mataram yang menyebutkan bahwa batu tersebut pernah digunakan sebagai singgasana raja. Fungsi batu itu sampai sekarang masih menjadi teka-teki," kata arkeolog Sambung Widodo.
Namun, Sambung tidak menampik kemungkinan bahwa Watu Gilang memang ada kaitannya dengan Kerajaan Mataram Islam, karena kawasan di sekitar batu tersebut diperkirakan pernah berdiri istana raja.
"Meskipun demikian, tidak dapat dipastikan bahwa itu adalah singgasana. Semuanya merupakan legenda turun-temurun yang mungkin telah berbelok dari kenyataan yang sebenarnya," katanya.
Ia mengatakan, sampai sekarang belum pernah ada penelitian secara arkeologis yang terfokus pada Watu Gilang, sehingga belum dapat dibuktikan kebenaran sejarahnya.
Kurang perhatian
Meski sejarahnya masih simpang siur, Watu Gilang tetap merupakan bagian dari warisan budaya, karena masyarakat masih menganggapnya sebagai peninggalan budaya yang harus dijaga.
"Setiap memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, warga di sini mengecat ulang bangunan tempat Watu Gilang itu," kata salah seorang penduduk di sekitar Watu Gilang, Surajan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kanthil Muhammad Natsir yang menaruh perhatian besar terhadap cagar budaya Kotagede, mengatakan, Watu Gilang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
"Kalau pun ada pemugaran, itu selalu berhenti di Masjid Agung Kotagede dan Makam Panembahan Senopati. Sedangkan Watu Gilang yang juga merupakan warisan budaya tidak pernah dipugar," katanya.
Padahal, menurut dia, seluruh warisan budaya di Kotagede, termasuk Watu Gilang, bukan hanya milik warga Kotagede, Yogyakarta, atau warga Indonesia semata, tetapi juga milik dunia. "Kami mau bangga dengan Kotagede dari apanya kalau situs budayanya tidak terawat," katanya.
Sumber: http://oase.kompas.com
Menginjakkan kaki di Kotagede, Kota Yogyakarta, terasa berada di masa Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16. Kotagede, wilayah kecil di selatan Kota Yogyakarta itu, dulu merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam.
Tak heran, banyak situs sejarah beserta mitos-mitosnya yang masih terpelihara sampai sekarang. Satu yang menarik dari sejumlah situs bernilai sejarah itu, adalah Watu Gilang.
Menurut cerita yang dipercayai penduduk setempat, batu tersebut merupakan singgasana raja pertama Mataram Islam Panembahan Senopati. Sekilas batu ini tidak tampak istimewa, hanya berupa batu andesit hitam berbentuk segi empat ukuran 140x119x12,5 cm dalam sebuah bangunan segi empat yang terlihat usang.
Namun, batu ini menjadi barang "keramat" yang menarik perhatian orang untuk melihatnya secara langsung. Mereka tidak hanya sekadar melihat-lihat, tetapi juga mencari berkah.
"Orang yang datang ke tempat ini biasanya untuk menjalankan âlelakuâ atau semacam ritual terkait dengan kepercayaan tertentu," kata juru kunci yang diserahi tugas pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk merawat Watu Gilang, Hastono Utomo.
Ia mengatakan, Watu Gilang di zaman itu pernah digunakan oleh Panembahan Senopati untuk membunuh menantunya, yang sekaligus musuh bebuyutannya, Ki Ageng Mangir.
"Saat itu Ki Ageng Mangir datang menghadap sebagai seorang menantu. Ketika dia sedang sungkem, Panembahan Senopati membenturkan kepala menantunya ke Watu Gilang," katanya. Bekas benturan kepala tersebut, menurut Hastono, meninggalkan bekas di Watu Gilang berupa cekungan dan retakan di salah satu sisi batu besar itu.
Masih teka-teki
Ada dua versi mengenai riwayat Watu Gilang. Versi yang berkembang di masyarakat, dan versi arkeologis. Anggapan masyarakat bahwa Watu Gilang merupakan bekas singgasana Panembahan Senopati, dibantah secara arkeologis oleh para ahli.
Sambung Widodo dari Balai Arkeologi Yogyakarta belum berani memastikan bahwa Watu Gilang pernah dipakai sebagai singgasana Panembahan Senopati. "Tidak ada data tertulis dari Kerajaan Mataram yang menyebutkan bahwa batu tersebut pernah digunakan sebagai singgasana raja. Fungsi batu itu sampai sekarang masih menjadi teka-teki," kata arkeolog Sambung Widodo.
Namun, Sambung tidak menampik kemungkinan bahwa Watu Gilang memang ada kaitannya dengan Kerajaan Mataram Islam, karena kawasan di sekitar batu tersebut diperkirakan pernah berdiri istana raja.
"Meskipun demikian, tidak dapat dipastikan bahwa itu adalah singgasana. Semuanya merupakan legenda turun-temurun yang mungkin telah berbelok dari kenyataan yang sebenarnya," katanya.
Ia mengatakan, sampai sekarang belum pernah ada penelitian secara arkeologis yang terfokus pada Watu Gilang, sehingga belum dapat dibuktikan kebenaran sejarahnya.
Kurang perhatian
Meski sejarahnya masih simpang siur, Watu Gilang tetap merupakan bagian dari warisan budaya, karena masyarakat masih menganggapnya sebagai peninggalan budaya yang harus dijaga.
"Setiap memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, warga di sini mengecat ulang bangunan tempat Watu Gilang itu," kata salah seorang penduduk di sekitar Watu Gilang, Surajan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kanthil Muhammad Natsir yang menaruh perhatian besar terhadap cagar budaya Kotagede, mengatakan, Watu Gilang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
"Kalau pun ada pemugaran, itu selalu berhenti di Masjid Agung Kotagede dan Makam Panembahan Senopati. Sedangkan Watu Gilang yang juga merupakan warisan budaya tidak pernah dipugar," katanya.
Padahal, menurut dia, seluruh warisan budaya di Kotagede, termasuk Watu Gilang, bukan hanya milik warga Kotagede, Yogyakarta, atau warga Indonesia semata, tetapi juga milik dunia. "Kami mau bangga dengan Kotagede dari apanya kalau situs budayanya tidak terawat," katanya.
Sumber: http://oase.kompas.com
Diposting oleh
putu
/ 20.50 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Luncurkan Buku Pantun Asal-asalan
SURABAYA - Wartawan senior Sofyan Lubis kembali meluncurkan buku. Kali ini dia mengangkat pantun yang menjadi salah satu budaya khas Melayu. Bertempat di Balai Wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surabaya kemarin siang (16/7), Sofyan tidak hanya memperkenalkan buku, tapi juga mengajak tamunya terlibat dengan maju ke depan dan membacakan pantun karyanya.
Salah satunya adalah Farid Syamlan, ketua Bengkel Muda Surabaya, yang membacakan tiga pantun karya Sofyan. "Tiga saja. Pantunnya bagus-bagus, nanti keterusan," kata Djadi Galajapo yang menjadi pembawa acara.
Ada sekitar 400 pantun dalam buku pria kelahiran Medan, 22 November 1941, tersebut. Di beberapa bagian, terselip kartun yang memancing senyum pembaca.
Menurut Sofyan, pantun yang dibukukan banyak dipakai di kehidupan sehari-hari. Namun, ada juga yang baru dibuatnya. Tidak semua pantun menggunakan kaidah, seperti terdiri atas empat baris atau dengan rima tertentu. Karena itu, dia menyebutnya sebagai pantun asal-asalan. "Saya berharap nanti orang tak perlu susah kalau mau mengucapkan selamat. Cukup baca buku ini," begitu tulisnya pada kata sambutan.
Buku bersampul hitam dan bergambar wajah Sofyan tersebut berisi 130 halaman. Yang dibahas bermacam hal. Namun, isinya lebih banyak tentang hari besar keagamaan. Misalnya, Idul Fitri dan Imlek. Beberapa hal umum, seperti ucapan ulang tahun dan terima kasih, juga tak luput jadi topik permainan kata pria yang menjadi wartawan sejak 1962 tersebut.
Itu bukanlah buku pertama pria yang pernah menjadi ketua umum PWI Pusat periode 1993-1998 tersebut. Pada 2009, dia merilis buku berjudul Wartawan? He He He tentang perjalanannya sebagai wartawan.
Sofyan mengatakan, menulis buku, bahkan menjadi wartawan, bukanlah cita-citanya.. "Saya ingin jadi jenderal. Tapi, gagal masuk secaba (sekolah calon bintara). Sekarang malah jadi wartawan," katanya, lantas tertawa. (any/c6/ttg)
Sumber : http://www.jawapos.com
Salah satunya adalah Farid Syamlan, ketua Bengkel Muda Surabaya, yang membacakan tiga pantun karya Sofyan. "Tiga saja. Pantunnya bagus-bagus, nanti keterusan," kata Djadi Galajapo yang menjadi pembawa acara.
Ada sekitar 400 pantun dalam buku pria kelahiran Medan, 22 November 1941, tersebut. Di beberapa bagian, terselip kartun yang memancing senyum pembaca.
Menurut Sofyan, pantun yang dibukukan banyak dipakai di kehidupan sehari-hari. Namun, ada juga yang baru dibuatnya. Tidak semua pantun menggunakan kaidah, seperti terdiri atas empat baris atau dengan rima tertentu. Karena itu, dia menyebutnya sebagai pantun asal-asalan. "Saya berharap nanti orang tak perlu susah kalau mau mengucapkan selamat. Cukup baca buku ini," begitu tulisnya pada kata sambutan.
Buku bersampul hitam dan bergambar wajah Sofyan tersebut berisi 130 halaman. Yang dibahas bermacam hal. Namun, isinya lebih banyak tentang hari besar keagamaan. Misalnya, Idul Fitri dan Imlek. Beberapa hal umum, seperti ucapan ulang tahun dan terima kasih, juga tak luput jadi topik permainan kata pria yang menjadi wartawan sejak 1962 tersebut.
Itu bukanlah buku pertama pria yang pernah menjadi ketua umum PWI Pusat periode 1993-1998 tersebut. Pada 2009, dia merilis buku berjudul Wartawan? He He He tentang perjalanannya sebagai wartawan.
Sofyan mengatakan, menulis buku, bahkan menjadi wartawan, bukanlah cita-citanya.. "Saya ingin jadi jenderal. Tapi, gagal masuk secaba (sekolah calon bintara). Sekarang malah jadi wartawan," katanya, lantas tertawa. (any/c6/ttg)
Sumber : http://www.jawapos.com
Diposting oleh
putu
/ 17.29 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Kadatua Akan Gelar Ritual "Poago"
PASARWAJO, SULTRA, --Masyarakat Kadatua, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, akan menggelar ritual "Poago" yang diikuti seluruh desa di kecamatan tersebut.
Ritual tersebut untuk memohon keselamatan, khususnya Kadatua, agar dihindarkan dari segala marabahaya, kemudahan dilimpahkan rezeki dan dijauhkan dari segala musibah.
Poago dilaksanakan mengingat selama dua tahun terkahir nelayan Kadatua merasa hasil tangkapan mereka, semakin berkurang. Bahkan pada bulan terkahir masyarakat Kadatua resah akibat keracunan dalam mengkonsumsi ikan dan siput laut (kerang laut).
Camat Kadatua La Ode Mpute, di Pasarwajo, Rabu mengatakan, ritual Poaga di pusatkan di Baruga Desa Lipu, Kecamatan Kadatua, samping kuburan Wa Ode Karamaguna (Wa Ode Pogo) salah tokoh adat yang ada di kadatua.
"Ritual dilakukan secara massal. Setelah istiqhosa dan poago di baruga dilanjutkan di desa masing-masing selama 3 hari. Selama ritual tersebut masih berlangsung, masyarakat dilarang melakukan kegiatan berupa bunyi-bunyian dan melaut untuk menangkap ikan," jelasnya.
Ia menjelaskan, ritual tersebut setiap tahun diselenggarakan oleh masyarakat Desa Banabungi, Namun tahun ini dilakukan serentak di 10 desa yang di pusatkan di Baruga Desa Lipu Kecamatan Kadatua.
"Masyarakat saat ini heran, kenapa hasil tangkap ikan mereka berkurang. Bukan hanya itu sejak isu keracunan ikan merebak dan menyabkan jatuhnya korban keracunan, masyarakat tidak pernah mengkonsumsi ikan lagi," tambahnya.
Pelaksanaan Ritual Poago ini direncanakan pada pekan depan, dan akan dihadiri juga oleh Bupati Buton LM Sjafei Kahar berserta jajaran pemerintah Kabupaten Buton.
Sumber : http://oase.kompas.com
Ritual tersebut untuk memohon keselamatan, khususnya Kadatua, agar dihindarkan dari segala marabahaya, kemudahan dilimpahkan rezeki dan dijauhkan dari segala musibah.
Poago dilaksanakan mengingat selama dua tahun terkahir nelayan Kadatua merasa hasil tangkapan mereka, semakin berkurang. Bahkan pada bulan terkahir masyarakat Kadatua resah akibat keracunan dalam mengkonsumsi ikan dan siput laut (kerang laut).
Camat Kadatua La Ode Mpute, di Pasarwajo, Rabu mengatakan, ritual Poaga di pusatkan di Baruga Desa Lipu, Kecamatan Kadatua, samping kuburan Wa Ode Karamaguna (Wa Ode Pogo) salah tokoh adat yang ada di kadatua.
"Ritual dilakukan secara massal. Setelah istiqhosa dan poago di baruga dilanjutkan di desa masing-masing selama 3 hari. Selama ritual tersebut masih berlangsung, masyarakat dilarang melakukan kegiatan berupa bunyi-bunyian dan melaut untuk menangkap ikan," jelasnya.
Ia menjelaskan, ritual tersebut setiap tahun diselenggarakan oleh masyarakat Desa Banabungi, Namun tahun ini dilakukan serentak di 10 desa yang di pusatkan di Baruga Desa Lipu Kecamatan Kadatua.
"Masyarakat saat ini heran, kenapa hasil tangkap ikan mereka berkurang. Bukan hanya itu sejak isu keracunan ikan merebak dan menyabkan jatuhnya korban keracunan, masyarakat tidak pernah mengkonsumsi ikan lagi," tambahnya.
Pelaksanaan Ritual Poago ini direncanakan pada pekan depan, dan akan dihadiri juga oleh Bupati Buton LM Sjafei Kahar berserta jajaran pemerintah Kabupaten Buton.
Sumber : http://oase.kompas.com
Diposting oleh
putu
/ 13.54 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Wow... Kota Tomohon Bertabur Bunga
TOMOHON, â" Kota Tomohon, Sulawesi Utara, sepanjang hari Jumat (23/7/2010) bertabur bunga. Tomohon Flower Festival dalam bentuk pawai kendaraan hias yang digelar sejak pukul 10.00 dan diikuti 82 peserta sukses menyedot lebih dari 10.000 penonton, baik dari masyarakat lokal maupun wisatawan dalam dan luar negeri.
Kami memberi alternatif wisata untuk pengunjung yang ke Sulawesi Utara, setelah Bunaken, wisatawan dapat menikmati Tomohon.
Tomohon Flower Festival (Festival Bunga Tomohon) kali ini lebih menarik dan ramai dengan melibatkan peserta asing, seperti dari Rusia, India, Vietnam, Malaysia, dan Korea Utara, serta puluhan peserta dari sejumlah kota di Tanah Air.
Mereka berpawai dengan kendaraan hias yang dipenuhi bunga lokal, antara lain marygold, aster, dan krisan. Pawai bunga tersebut menghabiskan sedikitnya 14 juta kuntum bunga dari berbagai jenis dan harga. Tampilan kendaraan hias amat beragam, menggambarkan ikon wisata setiap kabupaten/kota peserta.
Kendaraan hias peserta asing ditempatkan di depan pada iring-iringan mobil hias. Peserta dari Rusia memamerkan kendaraan hias bunga berbentuk beruang dan bangunan khas pemerintahan Kremlin.
India menampilkan bentuk bangunan Taj Mahal, diikuti Korea Utara dengan bentuk bebek. Sementara kendaraan hias Malaysia berbentuk bangunan parlemen, diikuti Vietnam dengan bentuk kereta yang ditarik oleh manusia.
Kegiatan Festival Bunga Tomohon dilanjutkan dengan pameran bunga di Lapangan Kaskasen serta pemilihan Putri Bunga Nusantara di Gedung Inspirasi Tomohon.
Hingga Jumat malam, areal pameran 82 kendaraan hias bunga di Lapangan Rindam, di pusat Kota Tomohon, masih dipadati masyarakat. Pawai kendaraan diselingi belasan kelompok drumband.
Wali Kota Tomohon Jefferson Rumajar mengatakan, festival bunga Tomohon memberi nuansa baru bagi pariwisata Sulawesi Utara. "Kami memberi alternatif wisata untuk pengunjung yang ke Sulawesi Utara, setelah Bunaken, wisatawan dapat menikmati Tomohon," katanya.
Bunga telah menjadi trademark Kota Tomohon. Festival Bunga telah mendongkrak pendapatan masyarakat Kota Tomohon yang 70 persen petani.
Menurut Jefferson, setiap kendaraan hias sedikitnya menghabiskan dana Rp 30 juta untuk membeli bunga petani.
Jefferson menambahkan, festival itu bertujuan mempromosikan potensi Tomohon sebagai Kota Bunga dan industri pendukungnya.
Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Utara Rotinsulu mengatakan, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara mencapai 75.000 orang tahun 2009. "Tahun ini kita menargetkan lebih banyak karena obyek-obyek wisata Sulut tengah dibuka, termasuk pelaksanaan Festival Bunga Tomohon," katanya. (zal)
Sumber : http://travel.kompas.com
Kami memberi alternatif wisata untuk pengunjung yang ke Sulawesi Utara, setelah Bunaken, wisatawan dapat menikmati Tomohon.
Tomohon Flower Festival (Festival Bunga Tomohon) kali ini lebih menarik dan ramai dengan melibatkan peserta asing, seperti dari Rusia, India, Vietnam, Malaysia, dan Korea Utara, serta puluhan peserta dari sejumlah kota di Tanah Air.
Mereka berpawai dengan kendaraan hias yang dipenuhi bunga lokal, antara lain marygold, aster, dan krisan. Pawai bunga tersebut menghabiskan sedikitnya 14 juta kuntum bunga dari berbagai jenis dan harga. Tampilan kendaraan hias amat beragam, menggambarkan ikon wisata setiap kabupaten/kota peserta.
Kendaraan hias peserta asing ditempatkan di depan pada iring-iringan mobil hias. Peserta dari Rusia memamerkan kendaraan hias bunga berbentuk beruang dan bangunan khas pemerintahan Kremlin.
India menampilkan bentuk bangunan Taj Mahal, diikuti Korea Utara dengan bentuk bebek. Sementara kendaraan hias Malaysia berbentuk bangunan parlemen, diikuti Vietnam dengan bentuk kereta yang ditarik oleh manusia.
Kegiatan Festival Bunga Tomohon dilanjutkan dengan pameran bunga di Lapangan Kaskasen serta pemilihan Putri Bunga Nusantara di Gedung Inspirasi Tomohon.
Hingga Jumat malam, areal pameran 82 kendaraan hias bunga di Lapangan Rindam, di pusat Kota Tomohon, masih dipadati masyarakat. Pawai kendaraan diselingi belasan kelompok drumband.
Wali Kota Tomohon Jefferson Rumajar mengatakan, festival bunga Tomohon memberi nuansa baru bagi pariwisata Sulawesi Utara. "Kami memberi alternatif wisata untuk pengunjung yang ke Sulawesi Utara, setelah Bunaken, wisatawan dapat menikmati Tomohon," katanya.
Bunga telah menjadi trademark Kota Tomohon. Festival Bunga telah mendongkrak pendapatan masyarakat Kota Tomohon yang 70 persen petani.
Menurut Jefferson, setiap kendaraan hias sedikitnya menghabiskan dana Rp 30 juta untuk membeli bunga petani.
Jefferson menambahkan, festival itu bertujuan mempromosikan potensi Tomohon sebagai Kota Bunga dan industri pendukungnya.
Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Utara Rotinsulu mengatakan, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara mencapai 75.000 orang tahun 2009. "Tahun ini kita menargetkan lebih banyak karena obyek-obyek wisata Sulut tengah dibuka, termasuk pelaksanaan Festival Bunga Tomohon," katanya. (zal)
Sumber : http://travel.kompas.com
Diposting oleh
putu
/ 22.29 /
Comments: (0)
Pernahkah anda melihat seorang wanita muslimah yang memakai jilbab lucu warna biru? Saya pernah dan hal itu saya lihat kemarin sore ketika saya sedang pergi ke perpustakaan. Memang jilbabnya tidak begitu lucu, namun yang membuat lucu adalah jilab itu dipadukan dengan celana panjang kotak – kotak. Benar-benar lain dari yang lain. Saya sebagai wanita muslimah yang juga suka dengan mode agak unik seperti itu tanpa banyak pikir langsung saja nyamperin dan bertanya di mana dia membeli baju tersebut.
Tanpa kesulitan wanita cantik baik itu memberi tau dimana dia membeli, dan sampai letaknya dia beritahukan.” Lantai 2, dekat dengan BAJU HAMIL” kata itulah yang saya ingat sepanjang hari, semua aktifitas jadi terlupakan untuk sejenak. Keesokan harinya saya langsung meluncur ke toko itu, dan di depan toko terlihat tulisan “GROSIR BUSANA MUSLI “. Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menemukan busana lucu yang dipakai gadis cantik kemarin.
Tanpa kesulitan wanita cantik baik itu memberi tau dimana dia membeli, dan sampai letaknya dia beritahukan.” Lantai 2, dekat dengan BAJU HAMIL” kata itulah yang saya ingat sepanjang hari, semua aktifitas jadi terlupakan untuk sejenak. Keesokan harinya saya langsung meluncur ke toko itu, dan di depan toko terlihat tulisan “GROSIR BUSANA MUSLI “. Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menemukan busana lucu yang dipakai gadis cantik kemarin.
Diposting oleh
putu
/ 16.05 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Candi Penataran Masih Penuh Misteri
Blitar - Wakil Presiden Boediono menilai, Candi Penataran di Blitar, Jawa Timur, masih menyimpan misteri karena masih banyak hal yang belum terungkap dari keberadaan candi itu.
"Candi ini nampak masih misteri karena belum banyak terungkap . Ini yang justru menjadikan daya tarik sendiri bagi budayawan dan wisatawan," kata Wapres Boediono, di Blitar, Jawa Timur, Selasa (4/5).
Hal tersebut diungkapkan saat Boediono mencanangkan kawasan Candi Panataran Sebagai Landmark Wisata Budaya Kabupaten Blitar.
Hadir dalam acara istri Boediono. Herawati Boediono, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, serta Gubernur Jawa TimurSoekarwo.
Menurut Boediono, dirinya sagat mengharapkan para budayawan untuk bisa mengungkap keberadaan candi tersebut. "Dengan bisa memecahkan misteri itu, kita akan tahu darimana asal bangsa Indonesia dan siapa kita. Selain itu juga bisa mengetahui apa yang dilakukan sebagai bangsa Nusantara," tanggapnya.
Boediono juga mengatakan, Candi Penataran ini akan bisa menjadi destinasi wisatawan ke Blitar sehingga pada akhirnya bisa mmensejahterakan rakyat. "Turisme dan pertumbuhan ekonomi memang bisa saling mendukung yang akan memberikan kesejahteraan rakyat setempat," kata Boediono.
Boediono mengaku dirinya sudah puluhan tahun tidak mengunjungi candi ini dan mendukung Candi Penataran sebagai cagar budaya. "Sebagai warga asli Blitar, saya sambut baik pencanangan candi ini sebagai cagar budaya," katanya.
Peresmian candi ditandai oleh Boediono dengan memukul kendang dan setelah itu berkesempatan meninjau candi di bawah terik matahari. [EL, Ant]
Sumber: http://www.gatra.com
"Candi ini nampak masih misteri karena belum banyak terungkap . Ini yang justru menjadikan daya tarik sendiri bagi budayawan dan wisatawan," kata Wapres Boediono, di Blitar, Jawa Timur, Selasa (4/5).
Hal tersebut diungkapkan saat Boediono mencanangkan kawasan Candi Panataran Sebagai Landmark Wisata Budaya Kabupaten Blitar.
Hadir dalam acara istri Boediono. Herawati Boediono, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, serta Gubernur Jawa TimurSoekarwo.
Menurut Boediono, dirinya sagat mengharapkan para budayawan untuk bisa mengungkap keberadaan candi tersebut. "Dengan bisa memecahkan misteri itu, kita akan tahu darimana asal bangsa Indonesia dan siapa kita. Selain itu juga bisa mengetahui apa yang dilakukan sebagai bangsa Nusantara," tanggapnya.
Boediono juga mengatakan, Candi Penataran ini akan bisa menjadi destinasi wisatawan ke Blitar sehingga pada akhirnya bisa mmensejahterakan rakyat. "Turisme dan pertumbuhan ekonomi memang bisa saling mendukung yang akan memberikan kesejahteraan rakyat setempat," kata Boediono.
Boediono mengaku dirinya sudah puluhan tahun tidak mengunjungi candi ini dan mendukung Candi Penataran sebagai cagar budaya. "Sebagai warga asli Blitar, saya sambut baik pencanangan candi ini sebagai cagar budaya," katanya.
Peresmian candi ditandai oleh Boediono dengan memukul kendang dan setelah itu berkesempatan meninjau candi di bawah terik matahari. [EL, Ant]
Sumber: http://www.gatra.com
Diposting oleh
putu
/ 04.24 /
Comments: (0)
Dapatkan Tips dan triks Gratis untuk menghasilkan Uang Dari Blog. Di
www.uangdariblog.com anda akan menemukan banyak sekali tips yang akan
membatu anda mendapatkan penghasilan pertama dari blog. Semua tips dan
trik itu bisa anda dapatkan dengan gratis tanpa mengeluarkan uang
sepeserpun. Selain dari Di www.uangdariblog.com, anda juga bisa
mendapatkan berbagai trik di www.ayoberbagi.com.
www.uangdariblog.com anda akan menemukan banyak sekali tips yang akan
membatu anda mendapatkan penghasilan pertama dari blog. Semua tips dan
trik itu bisa anda dapatkan dengan gratis tanpa mengeluarkan uang
sepeserpun. Selain dari Di www.uangdariblog.com, anda juga bisa
mendapatkan berbagai trik di www.ayoberbagi.com.

