Diposting oleh
putu
/ 22.34 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Kondisi Istana Indragiri Memprihatinkan
RENGAT--: Kondisi replika istana Kerajaan Indragiri yang terdapat di Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau memprihatinkan dan tidak terurus.
Dari pantauan Antara di lokasi istana di Rengat, Minggu (28/11), banyak kerusakan
terjadi pada replika istana yang diresmikan pada 2008 lalu ini.
Terutama pada pagar istana dan bangunan yang rusak. Selain itu, istana yang berada di tepi Danau Raja tersebut juga tidak terawat terlihat dari tingginya rumput ilalang yang berada di lingkungan istana.
Istana yang dibangun dalam kurun waktu tujuh tahun semasa pemerintahan Bupati Thamsir Rahman tersebut, sedianya dijadikan objek wisata. Namun yang terjadi saat ini, istana tersebut lebih banyak digunakan oleh muda-mudi sebagai tempat pacaran.
Salah seorang warga, Rahmadi, mengatakan jarang dilakukan kegiatan di stana tersebut dan selalu terkunci. Begitu juga tidak ada petugas yang menjaga istana tersebut.
"Dulu memang ada Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja-Red) yang menjaganya, tetapi sekarang tidak ada lagi yang menjaganya. Makanya banyak anak muda yang menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pacaran. Apalagi lokasinya berada di samping Danau Raja," jelasnya.
Padahal, lanjutnya, di istana tersebut menyimpan berbagai benda yang berkaitan dengan budaya Melayu serta pusaka peninggalan Kerajaan Indragiri. Kerajaan Indragiri merupakan kerajana Melayu.
Cucu dari Sultan Mahmud yang merupakan Raja Indragiri terakhir, Tengku Parameswara, mengatakan sangat menyayangkan hal tersebut. "Istana tersebut dibangun kembali untuk melestarikan nilai-nilai budaya Melayu. Jadi sangat disayangkan sekali jika ditelantarkan begitu saja," jelasnya.
Istana Indragiri yang asli sebelumnya telah roboh pada 1964 karena terkena abrasi Sungai Indragiri. Sementara lokasi replika terletak sekitar 100 meter dari lokasi istana yang asli. (OL-9)
Sumber : http://www.mediaindonesia.com
Dari pantauan Antara di lokasi istana di Rengat, Minggu (28/11), banyak kerusakan
terjadi pada replika istana yang diresmikan pada 2008 lalu ini.
Terutama pada pagar istana dan bangunan yang rusak. Selain itu, istana yang berada di tepi Danau Raja tersebut juga tidak terawat terlihat dari tingginya rumput ilalang yang berada di lingkungan istana.
Istana yang dibangun dalam kurun waktu tujuh tahun semasa pemerintahan Bupati Thamsir Rahman tersebut, sedianya dijadikan objek wisata. Namun yang terjadi saat ini, istana tersebut lebih banyak digunakan oleh muda-mudi sebagai tempat pacaran.
Salah seorang warga, Rahmadi, mengatakan jarang dilakukan kegiatan di stana tersebut dan selalu terkunci. Begitu juga tidak ada petugas yang menjaga istana tersebut.
"Dulu memang ada Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja-Red) yang menjaganya, tetapi sekarang tidak ada lagi yang menjaganya. Makanya banyak anak muda yang menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pacaran. Apalagi lokasinya berada di samping Danau Raja," jelasnya.
Padahal, lanjutnya, di istana tersebut menyimpan berbagai benda yang berkaitan dengan budaya Melayu serta pusaka peninggalan Kerajaan Indragiri. Kerajaan Indragiri merupakan kerajana Melayu.
Cucu dari Sultan Mahmud yang merupakan Raja Indragiri terakhir, Tengku Parameswara, mengatakan sangat menyayangkan hal tersebut. "Istana tersebut dibangun kembali untuk melestarikan nilai-nilai budaya Melayu. Jadi sangat disayangkan sekali jika ditelantarkan begitu saja," jelasnya.
Istana Indragiri yang asli sebelumnya telah roboh pada 1964 karena terkena abrasi Sungai Indragiri. Sementara lokasi replika terletak sekitar 100 meter dari lokasi istana yang asli. (OL-9)
Sumber : http://www.mediaindonesia.com
Diposting oleh
putu
/ 20.13 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Banjarmasin Bangun Keraton Banjar
BANJARMASIN, KOMPAS.com - Banjarmasin sebagai daerah yang menuju kota metropolitan tentu tidak lupa pada sektor pariwisata. Pembangunan keraton Banjar atau kerajaan Banjar di kawasan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan akan menjadi salah satu aset pariwisata menuju kota metropolitan. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Banjarmasin Fajar Desira, Selasa (16/11/2010).
Pembangunan keraton Banjar kawasan Sungai Gampa Kota Banjarmasin saat ini sudah masuk tahap pembahasan jajaran Pemerintah Kota. Rencana pembangunan keraton tersebut sudah mulai dilakukan studi kelayakan dengan menyiapkan lahan di kawasan Sungai Benua Anyar tepatnya di pesisir sungai Gampa. "Lahan untuk pembangunan keraton Banjar sudah dipersiapkan di kawasan Sungai Gampa dengan luas areal sekitar dua hektare lebih," kata Fajar.
Menurut Fajar, keberadaan keraton Banjar itu diharapkan dapat menunjang bidang pariwisata daerah Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin sebagai ibukota provinsi. Dengan adanya keraton Banjar, maka Kota Banjarmasin akan memiliki ikon khas seperti Kota Yogyakarta dan Solo yang memiliki keraton atau kerajaan.
Banjarmasin yang memiliki luas 72 Km persegi harus dikembangkan menjadi kota metropolitan. Fajar menyatakan bahwa jumlah penduduk Banjarmasin saat ini hampir 700 ribu jiwa dengan pertumbuhan penduduk setiap tahun sebanyak dua persen.
Karena itu, pengembangan wilayah kota Banjarmasin harus dilakukan terutama daerah pemukiman penduduk, pusat perbelanjaan, sarana umum, sarana hiburan dan pariwisata yang saat ini berkembang dengan pesat. Fajar berharap pada tahun 2020 akan terwujud Banjarmasin sebagai kota metropolitan.
Sumber : http://travel.kompas.com
Pembangunan keraton Banjar kawasan Sungai Gampa Kota Banjarmasin saat ini sudah masuk tahap pembahasan jajaran Pemerintah Kota. Rencana pembangunan keraton tersebut sudah mulai dilakukan studi kelayakan dengan menyiapkan lahan di kawasan Sungai Benua Anyar tepatnya di pesisir sungai Gampa. "Lahan untuk pembangunan keraton Banjar sudah dipersiapkan di kawasan Sungai Gampa dengan luas areal sekitar dua hektare lebih," kata Fajar.
Menurut Fajar, keberadaan keraton Banjar itu diharapkan dapat menunjang bidang pariwisata daerah Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin sebagai ibukota provinsi. Dengan adanya keraton Banjar, maka Kota Banjarmasin akan memiliki ikon khas seperti Kota Yogyakarta dan Solo yang memiliki keraton atau kerajaan.
Banjarmasin yang memiliki luas 72 Km persegi harus dikembangkan menjadi kota metropolitan. Fajar menyatakan bahwa jumlah penduduk Banjarmasin saat ini hampir 700 ribu jiwa dengan pertumbuhan penduduk setiap tahun sebanyak dua persen.
Karena itu, pengembangan wilayah kota Banjarmasin harus dilakukan terutama daerah pemukiman penduduk, pusat perbelanjaan, sarana umum, sarana hiburan dan pariwisata yang saat ini berkembang dengan pesat. Fajar berharap pada tahun 2020 akan terwujud Banjarmasin sebagai kota metropolitan.
Sumber : http://travel.kompas.com
Diposting oleh
putu
/ 17.49 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Labuhanbatu Gelar Malam Budaya Etnis di Lapangan Ikabina Rantauprapat
Rantauprapat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Labuhanbatu mulai 20 Nopember s/d 1 Desember 2010 menggelar malam seni dan budaya setiap malam di Lapangan Ikabina Rantauprapat. Hal itu berkaitan dengan rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-65 Pemkab Labuhanbatu tahun 2010, yang resepsinya telah dilaksanakan 16 Oktober 2010 lalu.
Demikian dijelaskan Bupati Labuhanbatu dr H Tigor Panusunan Siregar SpPD melalui Kabag Humas Infokom Setdakab Labuhanbatu Drs Muksin Matondang didampingi Kasubbag Pemberitaan Armansyah Abdi SSos, Kamis (18/11) di ruang kerjanya.
Secara rinci Sugeng memaparkan jadwal penampilan etnis yang akan mengisi pagelaran seni dan budaya itu pada setiap malamnya mulai pukul.20.00 WIB tersebut, yakni Sabtu (20/11) pentas seni yang berdiri kokoh di Lapangan Ikabina Rantauprapat itu akan diisi dengan penampilan budaya Melayu, Minggu (21/11), budaya Batak Toba, Senin (22/11), budaya Tionghoa, Selasa (23/11) budaya Simalungun.
Sedangkan, Rabu (24/11) pagelaran akan diisi dengan penampilan budaya Minang, Kamis (25/11) budaya Jawa, Jumâat (26/11) budaya Batak Karo, Sabtu (27/11) budaya Aceh, Minggu (28/11) Penampilan Etnis Budaya Nias, Senin (29/11) budaya Dairi, Selasa (30/11) budaya Sunda dan pada malam terakhir, Rabu (1/12) akan diisi dengan penampilan budaya Tapanuli Selatan, jelas Drs Muksin Matondang.
Menurutnya, pelaksana kegiatan malam pagelaran etnis budaya pada setiap malamnya adalah ketua atau pengurus etnis masing-masing, sedangkan sebagai koordinator pelaksana adalah para Kepala SKPD di jajaran Pemkab Labuhanbatu, para asisten dan kepala bagian di lingkungan Setdakab yang telah dihunjuk Bupati Labuhanbatu. âBupati Labuhanbatu sudah menghunjuk pelaksana dan para koordinator selama berlangsungnya kegiatan pagelaran etnis budaya itu pada setiap malamnya,â ucap Muksin Matondang.
Atas nama Bupati Labuhanbatu, Muksin Matondang juga menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat yang berdomisili di wilayah Kabupaten Labuhanbatu untuk menyaksikan pagelaran ini setiap malam di Lapangan Ikabina Rantauprapat. âTujuannya adalah agar kita dan anak cucu lebih mengenal dari dekat etnis budaya dan kesenian-kesenian yang ditampilkan dari masing-masing etnis yang ada di Kabupaten Labuhanbatu tersebut,â kata Matondang. (S18/u)
Sumber : http://hariansib.com
Demikian dijelaskan Bupati Labuhanbatu dr H Tigor Panusunan Siregar SpPD melalui Kabag Humas Infokom Setdakab Labuhanbatu Drs Muksin Matondang didampingi Kasubbag Pemberitaan Armansyah Abdi SSos, Kamis (18/11) di ruang kerjanya.
Secara rinci Sugeng memaparkan jadwal penampilan etnis yang akan mengisi pagelaran seni dan budaya itu pada setiap malamnya mulai pukul.20.00 WIB tersebut, yakni Sabtu (20/11) pentas seni yang berdiri kokoh di Lapangan Ikabina Rantauprapat itu akan diisi dengan penampilan budaya Melayu, Minggu (21/11), budaya Batak Toba, Senin (22/11), budaya Tionghoa, Selasa (23/11) budaya Simalungun.
Sedangkan, Rabu (24/11) pagelaran akan diisi dengan penampilan budaya Minang, Kamis (25/11) budaya Jawa, Jumâat (26/11) budaya Batak Karo, Sabtu (27/11) budaya Aceh, Minggu (28/11) Penampilan Etnis Budaya Nias, Senin (29/11) budaya Dairi, Selasa (30/11) budaya Sunda dan pada malam terakhir, Rabu (1/12) akan diisi dengan penampilan budaya Tapanuli Selatan, jelas Drs Muksin Matondang.
Menurutnya, pelaksana kegiatan malam pagelaran etnis budaya pada setiap malamnya adalah ketua atau pengurus etnis masing-masing, sedangkan sebagai koordinator pelaksana adalah para Kepala SKPD di jajaran Pemkab Labuhanbatu, para asisten dan kepala bagian di lingkungan Setdakab yang telah dihunjuk Bupati Labuhanbatu. âBupati Labuhanbatu sudah menghunjuk pelaksana dan para koordinator selama berlangsungnya kegiatan pagelaran etnis budaya itu pada setiap malamnya,â ucap Muksin Matondang.
Atas nama Bupati Labuhanbatu, Muksin Matondang juga menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat yang berdomisili di wilayah Kabupaten Labuhanbatu untuk menyaksikan pagelaran ini setiap malam di Lapangan Ikabina Rantauprapat. âTujuannya adalah agar kita dan anak cucu lebih mengenal dari dekat etnis budaya dan kesenian-kesenian yang ditampilkan dari masing-masing etnis yang ada di Kabupaten Labuhanbatu tersebut,â kata Matondang. (S18/u)
Sumber : http://hariansib.com
Diposting oleh
putu
/ 19.26 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Angklung Semarakkan Pembukaan West Java World Music Festival
Bandung - Permainan angklung oleh 2010 pelajar SD hingga SMA menyemarakkan pembukaan West Java World Music Festival 2010 di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Jalan Dipati Ukur, Bandung, Jumat (19/11). Festival musik dua hari itu menampilkan 15 musisi dan band dari dalam dan luar negeri.
Permainan angklung massal tersebut memainkan lagu diantaranya Peuyeum Bandung, Angklung is the Music of My Country, Yamko Rambe Yamko, dan Alusio. Seluruh lagu yang dimainkan secara medley itu dipimpin oleh seorang konduktor. "Kami berlatih sebulan, dua kali latihan gabungan," kata Fitrena, pelajar SMAN 8 Bandung, Jumat (19/11).
Permainan angklung itu juga untuk menyambut disahkannya angklung oleh UNESCO sebagai warisan dunia dari Indonesia pada 18 November. Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf saat membuka acara meminta kepada seluruh pelatih angklung dan musisi membuat karya angklung yang lebih hebat lagi.
Kolaborasi permainan kelompok Samba Sunda, Dwiki Darmawan, gitaris Colin Bass dari Inggris dan Jenny Weisgerber asal Jerman, serta Kamal Musalam dari Dubai, langsung menggebrak di awal pementasan. Hingga malam nanti, dua panggung akan bergantian diisi kelompok Malire, Komunitas Seniman Bangun Pagi, Jenny Weisgerber, Ttukunak, Kamal, dan Namin.
Kelompok Akarkina akan membuka panggung di hari kedua, Sabtu (20/11), mulai pukul 10.00 WIB. Disusul Warogus, Saratuspersen, 4Peniti dan Jenny Weisgerber, Colin Bass & Sambasunda serta Harry Pochang, Viky Sianipar, Krakatau, serta Darso. Penampilan Balawan akan menjadi penutup acara yang diselenggarakan oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Jawa Barat itu. West Java World Music Festival mempertemukan musik, instrumen, dan musisi lokal di Jawa Barat dengan pemusik internasional. ANWAR SISWADI
Sumber : http://www.tempointeraktif.com
Permainan angklung massal tersebut memainkan lagu diantaranya Peuyeum Bandung, Angklung is the Music of My Country, Yamko Rambe Yamko, dan Alusio. Seluruh lagu yang dimainkan secara medley itu dipimpin oleh seorang konduktor. "Kami berlatih sebulan, dua kali latihan gabungan," kata Fitrena, pelajar SMAN 8 Bandung, Jumat (19/11).
Permainan angklung itu juga untuk menyambut disahkannya angklung oleh UNESCO sebagai warisan dunia dari Indonesia pada 18 November. Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf saat membuka acara meminta kepada seluruh pelatih angklung dan musisi membuat karya angklung yang lebih hebat lagi.
Kolaborasi permainan kelompok Samba Sunda, Dwiki Darmawan, gitaris Colin Bass dari Inggris dan Jenny Weisgerber asal Jerman, serta Kamal Musalam dari Dubai, langsung menggebrak di awal pementasan. Hingga malam nanti, dua panggung akan bergantian diisi kelompok Malire, Komunitas Seniman Bangun Pagi, Jenny Weisgerber, Ttukunak, Kamal, dan Namin.
Kelompok Akarkina akan membuka panggung di hari kedua, Sabtu (20/11), mulai pukul 10.00 WIB. Disusul Warogus, Saratuspersen, 4Peniti dan Jenny Weisgerber, Colin Bass & Sambasunda serta Harry Pochang, Viky Sianipar, Krakatau, serta Darso. Penampilan Balawan akan menjadi penutup acara yang diselenggarakan oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Jawa Barat itu. West Java World Music Festival mempertemukan musik, instrumen, dan musisi lokal di Jawa Barat dengan pemusik internasional. ANWAR SISWADI
Sumber : http://www.tempointeraktif.com
Diposting oleh
putu
/ 17.02 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Ketua PT Sumut Disambut Adat Melayu di Labuhanbatu
Setiap keputusan yang diambil hakim tentu tidak memuaskan pihak-pihak yang bersengketa. Jika di satu pihak ada yang senang, tentu di pihak lain merasakan hal sebaliknya.
Hal itu dikatakan Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Sumut M Arif SH dalam sambutannya di Pendopo Rumah Dinas Bupati Labuhanbatu, Selasa (17/4) saat melakukan kunjungan kerja ke daerah penghasil karet serta sawit itu.
"Mahkamah Agung RI dalam setiap kesempatan selalu menginstruksikan agar jangan sampai hakim dipengaruhi untuk membuat putusan. Walau demikian keputusan yang diambil tentunya tidak memuaskan pihak yang bersengketa. Adil di satu pihak, belum tentu adil menurut pihak lain," ujar Arif.
Karena keputusan tersebut tentunya telah mempertimbangkan segala aspek. Apalagi setiap keputusan yang diambil hakim tetap berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa dan akan dipertanggungjawabkan di hari kemudian.
Berkaitan dengan kunjungannya, Ketua PT itu mengatakan dalam rangka melihat kondisi langsung keadaan Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat. Ini merupakan tugas pertama yang dilakukannya setelah dipercaya memimpin PT Sumut. Langkah pertama yang dilaksanakan adalah melakukan pembenahan ke dalam.
M Arif juga mengatakan, pengadilan merupakan salah satu dari pilar negara di sektor yudikatif. "Sektor yudikatif tidak mempunyai budget, namun memiliki power konstitusi," tandasnya.
Dijelaskannya, pengadilan tidak dapat menyidangkan suatu perkara sebelum berkas dilimpahkan oleh kejaksaan. Namun masih ada masyarakat yang tidak mengetahui hal itu dan memberikan laporan langsung ke pengadilan.
Sebelumnya Ketua DPRD Labuhanbatu Drs H Abd Roni Harahap dalam sambutannya mengatakan, tugas hakim cukup berat. "Terkadang hukum bertentangan dengan hati nurani," katanya.
Apalagi menurut Ketua DPRD, sebahagian besar hukum yang digunakan di Indonesia masih merupakan produk penjajah yang lebih memihak pada penguasa dan pengusaha. Karena itu, perubahan hukum yang dilaksanakan saat ini diharapkan dapat menambah perbaikan hukum di Indonesia.
Sedangkan Bupati Labuhanbatu HT Milwan dalam sambutannya mengatakan, kedatangan Ketua PT Sumut ke Labuhanbatu merupakan penghormatan kepada masyarakat Labuhanbatu, karena belum tentu setahun sekali ada Ketua PT Sumut yang datang ke Labuhanbatu.
Bupati Labuhanbatu juga berharap agar hukum dapat berjalan sesuai dengan harapan masyarakat, berlandaskan para koridor perundang-undangan yang berlaku.
Acara temu ramah tersebut juga dirangkaikan dengan penyematan pakaian adat Melayu kepada Ketua PT yang dilakukan Bupati Labuhanbatu HT Milwan didampingi Ketua TP PKK Labuhanbatu Hj Adlina Milwan, Ketua DPRD Kajari Adityawarman SH, Kasdim 0209/LB Mayor Inf L Malau, Wakapolres Kompol B Anies, Ketua PN Rantauprapat Mustofa SH.
Selain itu, para tokoh yang ada di Labuhanbatu antara lain Acen Susanto mewakili etnis Tionghoa yang memberikan upah-upah kepada Ketua PT Sumut. Acara tersebut juga diwarnai dengan sumbangan lagu dari para pejabat Labuhanbatu.
Sumber: www.harian-global.com
Hal itu dikatakan Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Sumut M Arif SH dalam sambutannya di Pendopo Rumah Dinas Bupati Labuhanbatu, Selasa (17/4) saat melakukan kunjungan kerja ke daerah penghasil karet serta sawit itu.
"Mahkamah Agung RI dalam setiap kesempatan selalu menginstruksikan agar jangan sampai hakim dipengaruhi untuk membuat putusan. Walau demikian keputusan yang diambil tentunya tidak memuaskan pihak yang bersengketa. Adil di satu pihak, belum tentu adil menurut pihak lain," ujar Arif.
Karena keputusan tersebut tentunya telah mempertimbangkan segala aspek. Apalagi setiap keputusan yang diambil hakim tetap berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa dan akan dipertanggungjawabkan di hari kemudian.
Berkaitan dengan kunjungannya, Ketua PT itu mengatakan dalam rangka melihat kondisi langsung keadaan Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat. Ini merupakan tugas pertama yang dilakukannya setelah dipercaya memimpin PT Sumut. Langkah pertama yang dilaksanakan adalah melakukan pembenahan ke dalam.
M Arif juga mengatakan, pengadilan merupakan salah satu dari pilar negara di sektor yudikatif. "Sektor yudikatif tidak mempunyai budget, namun memiliki power konstitusi," tandasnya.
Dijelaskannya, pengadilan tidak dapat menyidangkan suatu perkara sebelum berkas dilimpahkan oleh kejaksaan. Namun masih ada masyarakat yang tidak mengetahui hal itu dan memberikan laporan langsung ke pengadilan.
Sebelumnya Ketua DPRD Labuhanbatu Drs H Abd Roni Harahap dalam sambutannya mengatakan, tugas hakim cukup berat. "Terkadang hukum bertentangan dengan hati nurani," katanya.
Apalagi menurut Ketua DPRD, sebahagian besar hukum yang digunakan di Indonesia masih merupakan produk penjajah yang lebih memihak pada penguasa dan pengusaha. Karena itu, perubahan hukum yang dilaksanakan saat ini diharapkan dapat menambah perbaikan hukum di Indonesia.
Sedangkan Bupati Labuhanbatu HT Milwan dalam sambutannya mengatakan, kedatangan Ketua PT Sumut ke Labuhanbatu merupakan penghormatan kepada masyarakat Labuhanbatu, karena belum tentu setahun sekali ada Ketua PT Sumut yang datang ke Labuhanbatu.
Bupati Labuhanbatu juga berharap agar hukum dapat berjalan sesuai dengan harapan masyarakat, berlandaskan para koridor perundang-undangan yang berlaku.
Acara temu ramah tersebut juga dirangkaikan dengan penyematan pakaian adat Melayu kepada Ketua PT yang dilakukan Bupati Labuhanbatu HT Milwan didampingi Ketua TP PKK Labuhanbatu Hj Adlina Milwan, Ketua DPRD Kajari Adityawarman SH, Kasdim 0209/LB Mayor Inf L Malau, Wakapolres Kompol B Anies, Ketua PN Rantauprapat Mustofa SH.
Selain itu, para tokoh yang ada di Labuhanbatu antara lain Acen Susanto mewakili etnis Tionghoa yang memberikan upah-upah kepada Ketua PT Sumut. Acara tersebut juga diwarnai dengan sumbangan lagu dari para pejabat Labuhanbatu.
Sumber: www.harian-global.com
Diposting oleh
putu
/ 14.36 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Kenapa Malacca Strait Jazz?
Pekanbaru- Perhelatan Malacca Strait Jazz bakal digelar 29-30 Juni 2007 mendatang. Perhelatan ini digelar Yayasan Riau Jazz Turbulence bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau. Sejumlah musisi jazz dunia dari Australia, Jerman, Filipina, Malaysia dan sejumlah musisi jazz Indonesia dan Riau dipastikan meramaikan perhelatan ini. Kenapa Malacca Strait Jazz?
HAL ini mungkin menjadi pertanyaan bagi masyarakat di Riau. Terlebih di Riau musik jazz bukanlah musik yang digandrungi, baik kalangan muda maupun tua, apatah lagi kalangan remaja dan anak-anak.
Ketua panitia Malacca Strait Jazz, M Gusrianto, ketika ditemui Riau Pos di Pekanbaru, mengatakan, pertanyaan semacam ini wajar-wajar saja, terlebih musik ini masih sangat asing bagi telinga masyarakat Riau. Ini bisa dimaklumi dan kami bisa memahaminya.
Dituturkannya, Selat Melaka merupakan tapak ingatan dunia (worlds plate of memory) tentang tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Melayu. Bahwa Selat Melaka menjadi semacam âtabung leherâ yang menghubungkan peradaban benua dunia yang berada di barat (occidental) dan peradaban dunia yang berada di sebelah timur (oriental).
Ketika menyebut Selat Melaka, sekaligus orang bisa menitip segala nilai dan kenyataan romantik apakah itu purba, klasik, kekinian dan masa depan. Bahwa di selat ini terhidang pelayaran-pelayaran tersarat di dunia dalam bentuk perdagangan laluan maritim, sekaligus bertemunya peradaban-peradaban yang diangkut melalui pelayaran itu sendiri. Di atas kapal-kapal cruise (pesiar) yang mengusung inter-continental tourism yang tak mengenal batas, maka di sepanjang selat Melakalah tersedia titik-titik romantik perhentian seperti Langkawi, Penang, Belawan, Selangor, Melaka, Dumai, Johor Bahru, Singapura hingga Bintan dan Palembang.
âInilah titik-titik pertumbuhan tamadun Melayu yang mempengaruhi warna dunia. Selat ini menjadi taman dan media yang subur bagi perkembangan peradaban Melayu di muka bumi,â tuturnya.
Selat Melaka, adalah wadah berhimpunnya air dengan kekuatan peradaban aquatic-nya. Air menjadi anasir dominan yang mengisi bumi (70 persen). Demikianlah peradaban, siapa yang bisa menaklukkan air, terutama gelombang (wave), maka dialah yang menguasai dunia. Ingat adagium tua, Britain rule the wave, menjadi inspirasi anak-anak Birtania menaklukan dan melakukan perambahan ke sudut dan ceruk dunia. Demikianlah musik, juga harus menguasai gelombang; gelombang laut, gelombang cahaya, gelombang suara, gelombang bunyi. Riau harus bisa memanfaatkan keperkasaan jenis-jenis gelombang-gelombang itu yang tersedia dan terhidang di Selat Melaka.
Iven jazz yang gahara dan berlangsung dalam marwah yang terjulang di ranah Eropa, juga menggunakan tapak-tapak yang berdekatan dengan air laut. Di Belanda orang mengusung nama North Sea (laut utara) yang ditempel dengan diksi jazz. Sehingga North Sea adalah mata hitam, sedangkan jazz adalah mata putih, yang tak terpisahkan dalam korpus manusia modern di kontinental Eropa.
Demikianlah halnya dengan Java Jazz Festival, juga mengambil tapak ingatan sempena nama laut tempat kawasan romantik peradaban Jawa terbangun meranggi, sehingga mereka menyebutkan dengan sangat familiar, menjadi Java Jazz. Begitu pula Jak Jazz diambil sempena nama bandar besar yang bertengger di tepi tebing sebuah laut yang bergelora (laut Jawa). Begitulah, nama Malacca Strait Jazz diambil bertolak dari kesadaran perjalanan peradaban yang menyeruak melalui keperkasaan selat yang dalam sejarah merupakan selat tersibuk kedua setelah selat Channel yang memisahkan Inggris dan Prancis.
Kota-kota besar Melayu sejak dari Kuta Raja (Banda Aceh), Penang, Port Klang, Medan, Pekanbaru, Melaka, Johor Bahru, Singapura, Bintan, dan Batam adalah kota-kota yang âterberikanâ oleh inayah dan kaidah selat Melaka. Nama event jazz di Pekanbaru ini, adalah sebuah cara kota di Sumatera ini mengungkapkan terima kasihnya kepada selat yang menjadi laluan nurani dan peradaban Melayu di dunia.
Sebuah kawasan yang bercita-cita mempertemukan dan menggauli segala peradaban dan kebudayaan dunia. Di sini tersemai cita-cita masyarakat terbuka, masyarakat yang gairah dengan dialog, dan cenderung membaharu (inovatif). Dan dengan cara beginilah, orang Melayu, musik Melayu, tamadun Melayu menyapa dunia.***
Sumber: Riau Pos
HAL ini mungkin menjadi pertanyaan bagi masyarakat di Riau. Terlebih di Riau musik jazz bukanlah musik yang digandrungi, baik kalangan muda maupun tua, apatah lagi kalangan remaja dan anak-anak.
Ketua panitia Malacca Strait Jazz, M Gusrianto, ketika ditemui Riau Pos di Pekanbaru, mengatakan, pertanyaan semacam ini wajar-wajar saja, terlebih musik ini masih sangat asing bagi telinga masyarakat Riau. Ini bisa dimaklumi dan kami bisa memahaminya.
Dituturkannya, Selat Melaka merupakan tapak ingatan dunia (worlds plate of memory) tentang tumbuh dan berkembangnya peradaban bangsa Melayu. Bahwa Selat Melaka menjadi semacam âtabung leherâ yang menghubungkan peradaban benua dunia yang berada di barat (occidental) dan peradaban dunia yang berada di sebelah timur (oriental).
Ketika menyebut Selat Melaka, sekaligus orang bisa menitip segala nilai dan kenyataan romantik apakah itu purba, klasik, kekinian dan masa depan. Bahwa di selat ini terhidang pelayaran-pelayaran tersarat di dunia dalam bentuk perdagangan laluan maritim, sekaligus bertemunya peradaban-peradaban yang diangkut melalui pelayaran itu sendiri. Di atas kapal-kapal cruise (pesiar) yang mengusung inter-continental tourism yang tak mengenal batas, maka di sepanjang selat Melakalah tersedia titik-titik romantik perhentian seperti Langkawi, Penang, Belawan, Selangor, Melaka, Dumai, Johor Bahru, Singapura hingga Bintan dan Palembang.
âInilah titik-titik pertumbuhan tamadun Melayu yang mempengaruhi warna dunia. Selat ini menjadi taman dan media yang subur bagi perkembangan peradaban Melayu di muka bumi,â tuturnya.
Selat Melaka, adalah wadah berhimpunnya air dengan kekuatan peradaban aquatic-nya. Air menjadi anasir dominan yang mengisi bumi (70 persen). Demikianlah peradaban, siapa yang bisa menaklukkan air, terutama gelombang (wave), maka dialah yang menguasai dunia. Ingat adagium tua, Britain rule the wave, menjadi inspirasi anak-anak Birtania menaklukan dan melakukan perambahan ke sudut dan ceruk dunia. Demikianlah musik, juga harus menguasai gelombang; gelombang laut, gelombang cahaya, gelombang suara, gelombang bunyi. Riau harus bisa memanfaatkan keperkasaan jenis-jenis gelombang-gelombang itu yang tersedia dan terhidang di Selat Melaka.
Iven jazz yang gahara dan berlangsung dalam marwah yang terjulang di ranah Eropa, juga menggunakan tapak-tapak yang berdekatan dengan air laut. Di Belanda orang mengusung nama North Sea (laut utara) yang ditempel dengan diksi jazz. Sehingga North Sea adalah mata hitam, sedangkan jazz adalah mata putih, yang tak terpisahkan dalam korpus manusia modern di kontinental Eropa.
Demikianlah halnya dengan Java Jazz Festival, juga mengambil tapak ingatan sempena nama laut tempat kawasan romantik peradaban Jawa terbangun meranggi, sehingga mereka menyebutkan dengan sangat familiar, menjadi Java Jazz. Begitu pula Jak Jazz diambil sempena nama bandar besar yang bertengger di tepi tebing sebuah laut yang bergelora (laut Jawa). Begitulah, nama Malacca Strait Jazz diambil bertolak dari kesadaran perjalanan peradaban yang menyeruak melalui keperkasaan selat yang dalam sejarah merupakan selat tersibuk kedua setelah selat Channel yang memisahkan Inggris dan Prancis.
Kota-kota besar Melayu sejak dari Kuta Raja (Banda Aceh), Penang, Port Klang, Medan, Pekanbaru, Melaka, Johor Bahru, Singapura, Bintan, dan Batam adalah kota-kota yang âterberikanâ oleh inayah dan kaidah selat Melaka. Nama event jazz di Pekanbaru ini, adalah sebuah cara kota di Sumatera ini mengungkapkan terima kasihnya kepada selat yang menjadi laluan nurani dan peradaban Melayu di dunia.
Sebuah kawasan yang bercita-cita mempertemukan dan menggauli segala peradaban dan kebudayaan dunia. Di sini tersemai cita-cita masyarakat terbuka, masyarakat yang gairah dengan dialog, dan cenderung membaharu (inovatif). Dan dengan cara beginilah, orang Melayu, musik Melayu, tamadun Melayu menyapa dunia.***
Sumber: Riau Pos
Diposting oleh
putu
/ 11.29 /
Comments: (0)
Informasi terbaru Jika Jorok, Siapa Mau Datang ke Jambi?
Jambi- Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin menyatakan, Kota Jambi harus menjadi simpul dan etalase sebagai ibukota Provinsi Jambi, karena wisatawan tidak mau datang jika Kota Jambi jorok dan tidak aman.
Pernyataan Gubernur Zulkifli kepada wartawan di Jambi, Selasa sehubungan Kota Jambi memasuki usia ke-61 yang jatuh pada 17 Mei 2007.
Masyarakat Kota Jambi berharap di usia Kota Jambi yang ke-61 harus mampu menata keindahan kota yang bersih dan sejuk.
Untuk mewujudkan itu masyarakat harus bersatu padu mendukung program kerja walikota mengembangkan Kota Jambi.
Meski pembangunan Kota Jambi telah berkembang, namun masalah kebersihan harus menjadi prioritas.
Kebersihan itu adalah pokok bagi setiap ibukota provinsi di Indonesia karena itu menjadi simbol sekaligus memberikan nuansa yang baik bagi setiap pengunjung atau wisatawan terutama wisatawan mancanegara.
"Wisatawan akan kapok mengunjungi kembali kota yang pernah didatangi jika penataan kota itu jelek dan kotor," ungkap Zulkifli.
Sumber : Antara
Pernyataan Gubernur Zulkifli kepada wartawan di Jambi, Selasa sehubungan Kota Jambi memasuki usia ke-61 yang jatuh pada 17 Mei 2007.
Masyarakat Kota Jambi berharap di usia Kota Jambi yang ke-61 harus mampu menata keindahan kota yang bersih dan sejuk.
Untuk mewujudkan itu masyarakat harus bersatu padu mendukung program kerja walikota mengembangkan Kota Jambi.
Meski pembangunan Kota Jambi telah berkembang, namun masalah kebersihan harus menjadi prioritas.
Kebersihan itu adalah pokok bagi setiap ibukota provinsi di Indonesia karena itu menjadi simbol sekaligus memberikan nuansa yang baik bagi setiap pengunjung atau wisatawan terutama wisatawan mancanegara.
"Wisatawan akan kapok mengunjungi kembali kota yang pernah didatangi jika penataan kota itu jelek dan kotor," ungkap Zulkifli.
Sumber : Antara

